
Bersamaan di malam ketiga itu, yakni malam Jum’at tanggal 9 Jumadil
Awal 1014 H atau tanggal 22 September 1605 M. (Darwa rasyid MS.,
Peristiwa Tahun-tahun Bersejarah Sulawesi Selatan dari Abad ke XIV s/d
XIX, hal.36), di bibir pantai Tallo merapat sebuah perahu kecil.
Layarnya terbuat dari sorban, berkibar kencang. Nampak sesosok lelaki
menambatkan perahunya lalu melakukan gerakan-gerakan aneh. Lelaki itu
ternyata melakukan sholat. Cahaya yang terpancar dari tubuh Ielaki itu
menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo, yang sontak
ramai membicarakannya hingga sampai ke telinga Baginda KaraEng Katangka.
Di pagi buta itu, Baginda bergegas ke pantai. Tapi tiba-tiba lelaki itu
sudah muncul ‘menghadang’ di gerbang istana. Berjubah putih dengan
sorban berwarna hijau. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya memancarkan
cahaya.

Singkat cerita, Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan
menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. “Berbahagialah
Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat,” kata lelaki itu.
Adapun lelaki yang menuliskannya adalah Nabi Muhammad SAW sendiri.
Baginda Nabi telah menampakkan diri di Negeri Baginda.
Peristiwa ini dipercaya sebagai jejak sejarah asal-usul nama
“Makassar”, yakni diambil dari nama “Akkasaraki Nabbiya”, artinya Nabi
menampakkan diri. Adapun lelaki yang mendarat di pantai Tallo itu adalah
Abdul Ma’mur Khatib Tunggal yang dikenal sebagai Dato’ ri Bandang,
berasal dari Kota Tengah (Minangkabau, Sumatera Barat). Baginda Raja
Tallo I Mallingkaang Daeng Manyonri KaraEng Katangka setelah memeluk
Agama Islam kemudian bergelar Sultan Abdullah Awaluddin Awawul Islam
Karaeng Tallo Tumenanga ri Agamana. Beliau adalah Raja pertama yang
memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan.
Lebih jauh, penyusuran asal nama “Makassar” dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:
1. Makna. Untuk menjadi manusia sempurna perlu “Ampakasaraki”,
yaitu menjelmakan (menjasmanikan) apa yang terkandung dalam bathin itu
diwujudkan dengan perbuatan. “Mangkasarak” mewujudkan dirinya sebagai
manusia sempurna dengan ajaran TAO atau TAU (ilmu keyakinan bathin).
Bukan seperti yang dipahami sebagian orang bahwa “Mangkasarak” orang
kasar yang mudah tersinggung. Sebenarnya orang yang mudah tersinggung
itu adalah orang yang halus perasaannya.
2. Sejarah. Sumber-sumber Portugis pada permulaan abad ke-16
telah mencatat nama “Makassar”. Abad ke-16 “Makassar” sudah menjadi ibu
kota Kerajaan Gowa. Dan pada Abad itu pula, Makassar sebagai ibu kota
sudah dikenal oleh bangsa asing. Bahkan dalam syair ke-14
Nagarakertagama karangan Prapanca (1365) nama Makassar telah tercantum.
3. Bahasa. Dari segi Etimologi (Daeng Ngewa, 1972:1-2), Makassar
berasal dati kata “Mangkasarak” yang terdiri atas dua morfem ikat
“mang” dan morfem bebas “kasarak”. Morfem ikat “mang” mengandung arti:
a). Memiliki sifat seperti yang terkandung dalam kata dasarnya. b).
Menjadi atau menjelmakan diri seperti yang dinyatakan oleh kata
dasarnya. *Morfem bebas “kasarak” mengandung (arti: a). Terang, nyata,
jelas, tegas. b). Nampak dari penjelasan. c). Besar (lawan kecil atau
halus).
Jadi, kata “Mangkasarak” Mengandung arti memiliki sifat besar (mulia)
dan berterus terang (Jujur). Sebagai nama, orang yang memiliki sifat
atau karakter “Mangkasarak” berarti orang tersebut besar (mulia),
berterus terang (Jujur). Sebagaimana di bibir begitu pula di hati.
John A.F. Schut dalam buku “De Volken van Nederlandsch lndie”
jilid I yang beracara : De Makassaren en Boegineezen, menyatakan:
“Angkuh bagaikan gunung-gunungnya, megah bagaikan alamnya, yang
sungai*sungainya di daerah-daerah nan tinggi mengalir cepat, garang tak
tertundukkan, terutama pada musim hujan; air-air terjun tertumpah
mendidih, membusa, bergelora, kerap menyala hingga amarah yang tak
memandang apa-apa dan siapa-siapa. Tetapi sebagaimana juga sungai,
gunung nan garang berakhir tenang semakin ia mendekati pantai. Demikian
pulalah orang Bugis dan Makassar, dalam ketenangan dapat menerima apa
yang baik dan indah”.
Dalam ungkapan “Akkana Mangkasarak“,
maksudnya berkata terus terang, meski pahit, dengan penuh keberanian
dan rasa tanggung jawab. Dengan kata “Mangkasarak” ini dapatlah dikenal
bahwa kalau dia diperlakukan baik, ia lebih baik. Kalau diperlakukan
dengan halus, dia lebih halus, dan kalau dia dihormati, maka dia akan
lebih hormat.
Sumber : emilsalim27.wordpress.com
So #WeLoveMakassar
0 komentar:
Posting Komentar